Mengikuti imam yang qunut subuh, dan hukum sujud sahwi meninggalkannya

Mengikuti imam yang qunut subuh, dan hukum sujud sahwi meninggalkannya

 

Soal: Apa hukum membaca doa qunut subuh, apakah meninggalkannya wajib diganti dengan sujud sahwi? Jika sujud sahwi tidak dikerjakan apakah sholatnya dianggap sah?
Jawab:qunut subuh tidak disyariatkan dilakukan terus menerus, bahkan perbuatan ini tidak disyariatkan,minimal hukumnya makruh, bahkan dari tinjauan nash-nash secara zahir menunjukkan perbuatan itu adalah bid’ah.

Telah terdapat keterangan yang sah dari Saad bin Thariq al-Asyja’iy dari bapaknya bahwa dia pernah bertanya kepada ayahnya:”Wahai ayah..sesungguhnya engkau pernah sholat dibelakang Rasulullah dibelakang Abu Bakar dan Umar serta Utsman dan Ali, apakah mereka melakukan qunut ketika subuh? Maka ayahnya menjawab: Wahai anakku itu adalah perbuatan yang diada-adakan.HR. Tirmizi, Nasa’I dan Ibnu Majah dengan sanad yang baik. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Benarkah ada orang yang kesurupan?

Benarkah ada orang yang kesurupan?

Alvin – Abu Aryan. : Assalamualaikum ustad. Bagaimana hukumnya rukiah pengusiran iblis dan syaitan?… Apakah emang benar ada iblis dan syaitan yg merasuki diri kita?…dan bisa diusir secara permanen?…, ataukah syaitan yg dari diri kita sendiri?…apakah emang benar ada orang kerasukan syaitan?
** Sep 22 Kam 12:25 **
Abu Fairuz: Ya benar,orang dapat kerasukan syetan menurut paham Ahlus Sunnah waljamaah,Allah mengumpakan dlm Alquran tentang orang-orang yang makan riba sebagaimana orang-orang kesurupan. Baca pos ini lebih lanjut

Tanya Jawab dengan para Masyayikh Yordania ( Murid –Murid Imam Al Albani )

SOAL-JAWAB ANTARA PESERTA DAURAH SYAR’IYYAH

DENGAN PARA MASYAYIKH—MURID-MURID DARI SYEIKH MUHAMMAD NASIRUDDIN AL-ALBANI HAFIZAHUMULLAH—

Yang diadakan di Ma’had al-Irsyad Surabaya tgl 17-21 Maret 2002

S. Sebelumnya anda nyatakan bahwa dakwah salaf menyeru kepada Islam secara menyeluruh, salaf menyeru kepada rukun Islam, jihad dan politik. Pertanyaan kami, sejauh manakah diperbolehkan ikut serta dalam pertarungan politik?

J. (Syeih Salim al Hilali). Islam adalah agama yang paripurna (syamil) dan diridhai Allah untuk kita. Yang kita disuruh berpegang teguh dengannya.Allah berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya Agama yang diridhai Allah di sisiNya adalah Islam”. “Barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan kelak hari kiamat dia termasuk orang-orang yang merugi. Allah menyeru untuk masuk ke dalam Islam Secara menyeluruh dengan firmanNya: Hai orang-orang yang berfiman masuklah ke dalam assilmi (Islam) secara keseluruhan”. Dalam menafsirkan kata assilm, Ibn Abbas berkata :” As-Silmi” adalah Islam. Jadi Allah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam agama ini secara menyeluruh, atau masuk secara total ke dalam nya.

Adapun “As-Siayasah”(politik) dialah hakikat Islam, karena makna siyasah sendiri adalah mengatur kemaslahatan umat dengan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kitabullah dan Sunnah rasulNya.. Dalam merealisasikannya dibutuhkan suatu manhaj, ilmu ataupun orang-orang yang faham kemaslahatan umat.

Para ulama Islam telah mengarang berbagai macam literatur siayasah syar’iyyah (politik dalam syariat Islam) di antaranya: buku al-ahkam as-Sultaniyyah karya al-Imam Al-Mawardi, As-Siyasah As-Syar’iyyah karya Ibn Taimiyyah dan Abu Ya’la al-Musili dan At-Turuq al-Hukmiyyah karya Ibn Al-Qayyim dan sebagainya yang keseluruhannya menerangkan bahwa Islam benar-benar memperhatikan kemaslahatan umat ,.

Islam merupakan pewaris agama seluruh nabi-nabi, Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam . Bersabda: “Bani Israil dipimpin oleh para nabi, jika seorang nabi wafat maka akan digantikan dengan nabi lainnya”, beliau juga bersabda: ”Akan datang setelahku para khulafa (pemimpin).

Yang mampu memahami kemaslahatan suatu Ummat setelah para nabi adalah para ulul amri yakni al-hukkam (para pemimpin ) dan Ulama, merekalah yang berhak untuk masuk ke dalam kancah perpolitikan ini untuk kemaslahatan umat.

Para pemimipin bertugas menjalankan syariat Allah, sedangkan para ulama bertugas mengarahkan umat dan menunjuki para umara. Yang berkompeten dalam hal ini adalah orang yang berilmu dan paham dengan hukum syariat . karena Kemaslahatan umat memerlukan pemahaman agama yang sempurna.

Adapun kata “politik“ yang dipahami pada zaman ini sebenarnya tidak pernah dikenal oleh Islam, .karena pengertian berpolitik di era ini adalah sebatas kemampuan untuk berdebat, menggerakkan massa, kemampuan berkelit, berubah-ubah warna, kemunafikan dan selalu mengikuti kemana arah angin bertiup. Islam berlepas diri dari “politik“ yang seperti ini.karena tidak akan mendatangkann kemaslahatan kepada ummat.

Inilah perbedaan makna “politik” yang diinginkan Allah dengan makna yang dipahami oleh orang-orang sekarang, yang tidak lain target utamanya agar sampai ke tampuk kekuasaan, karena itu seorang politikus rela untuk bekerja sama dengan segala macam cara dan segala macam mazhab. Demi ambisi ini dia rela untuk ganti-ganti warna, bersikap plin-plan dan berbuat kemuanafikan dengan politikus lainnya, kamim berlindung dari hal ini kepada Allah Tuhan alam semesta..

Adapun siyasah syar’iyyah akan selalu di bawah pimpinan seorang alim yang rabbani , Allah berfirman:” Tetapi jadilah kalian ulama yang Rabbanai dengan apa-apa yang kalian ajarkan dari alkitab dan dengan apa-apa yang kalain pelajari. Baca pos ini lebih lanjut

TANYA JAWAB Bersama Masyaikh Markaz Imam Albani

TANYA JAWAB
Bersama Masyaikh Markaz Imam Albani
Transkrip dan Terjemah :
Abu Fairuz Ahmad Ridwan al-Madani
Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi
Pada Dauroh Ilmiyyah bagi du’at Salafiyyah, tanggal 17-21 Maret 2002 Diselenggarakan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafi Surabaya

PERTANYAAN :
Apa pendapat anda dalam menanggapi maslak qiyas, apakah dia termasuk salah satu sumber selain Alquran dan as-Sunnah ?

Syaikh Masyhur Salman menjawab :
Masalah ini adalah permasalahan yang banyak membuat sesorang keliru pemahamannya dan tergelincir, namun jawaban yang rajih bahwa syariat ini memiliki illat (sebab dibuatnya hukum-pent)yang mu’tabarah (dianggap). Sebagaimana yang tertulis dalam surat Umar kepada Abu Musa Al-As’ari yang berbunyi: “Kenalilah sesuatu dengan hal-hal yang serupa dengannya maka engkau akan mengetahui kebenaran”.

Tetapi Qiyas bukan sumber yang independen layaknya Alquran dan As-Sunnah, dia hanyalah sebuah masdar taba’I (dasar yang mengikut )dibawah cakupan Alquran
dan As-sunnah. Kita paham dari Alquran dan As-sunnah adanya kaedah-kaedah umum dan ketentuan -ketentuan dasar ,maupun kaedah-kaedah fikih. Dengan itulah kita berusaha menyesuaikan hukum-hukum dengan menganalogikannya kepada kasus-kasus yang serupa. Dalam menyikapi Qiyas, manusia yang keliru terbagi menjadi dua kelompok yang bersebrangan: pertama adalah kelompok yang menolak qiyas secara total dan tidak manganggap bahwa syariat ini memililiki illat, memiliki hikmah bahkan mengingkari bahwa syariat ini ada yang ma’qulatul makna( dapat di rasionalkan.pent). kelompok ini adalah keliru.

Adapun kelompok kedua: adalah kelompok yang terlalu luas dalam penggunaan qiyas sehingga meremehkan nasnas, bahkan bukan sekedar menjadikannya dasar hukum ketiga saja, lebih dari itu dia mendahulukannya dari nasnas, walaupun pada dasarnya sepakat menerima nas.

Kelompok ini juga keliru sebagaimana yang pertama.
Jawaban yang benar bahwa Qiyas mu’tabar (dianggap sebagai salah satu rujukan.pent). Ketika Ahmad bertemu dengan Syafii, –Ahmad sangat mencintai Syafii-. Dia pernah menukil sebuah perkatan Syafii ketika ditanya mengenai kehujjahan qiyas : “Qiyas dapat dipakai hanya pada kondisi darurat” inilah yang diperkuat Imam Ibn Qoyyim dalam keterangannya dan penjelasannya yang sangat tepat dan sempurna hingga tidak perlu lagi ditambahi dalam kitabnya :”I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbi al-‘alamin.

Kemudian masalah ini turut diperbincangkan oleh Jabariyyah dan Qodariyyah sehingga terseret kedalam pemahaman aqidah yang rusak.

Pendapat yang paling benar dan pertengahan adalah yang kusebutkan tadi , namun kalimat yang kusampaikan ini tentu tidak cukup untuk menerangkan secara rinci
permasalahan ini dari apa yang diterangkan Ibn Qoyyim.

PERTANYAAN :
Bagaimana standar suatu permasalahkan dapat digolongkan ke dalam perkara bid’ah ataupun tidak?

Syaikh Salim Hilali menjawab :
Bid’ah yaitu suatu perkara yang tidak memiliki dalil sedikitpun baik yang menyangkut asalnya maupun sifatnya(caranya). Segala perkara yang diada-adakan di dalam agama ini maka akan tertolak.semua bida’ah tetaplah dainggap bid’ah baik dengan meninggalkan sesuatu dalam Islam dengan niat bertaqarrub kepada Allah ataupun bid’ah idofiyyah yaitu perkara yang dasarnya disyariatkan namun sifatnya/caranya dibuat-buat.

Tetapi bukan setiap orang yang tergelincir kedalam perbuatan bidah dihukumi sebagai Ahlu bid’ah. Seseorang dihukumi dengan ahlu bid’ah jika telah diberitahukan kepadanya tentang kebid’ahan perbuatannya , dinasehati dan diperingatkan namun dia tetap bersikeras dengan bid’ahnya. Orang seperti ini digolongkan ke dalam Ahlu bid’ah dan boleh ditahzir sebab tidak lagi memiliki karamah (harga diri sebagai muslim). Baca pos ini lebih lanjut