TANYA JAWAB Bersama Masyaikh Markaz Imam Albani

TANYA JAWAB
Bersama Masyaikh Markaz Imam Albani
Transkrip dan Terjemah :
Abu Fairuz Ahmad Ridwan al-Madani
Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi
Pada Dauroh Ilmiyyah bagi du’at Salafiyyah, tanggal 17-21 Maret 2002 Diselenggarakan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafi Surabaya

PERTANYAAN :
Apa pendapat anda dalam menanggapi maslak qiyas, apakah dia termasuk salah satu sumber selain Alquran dan as-Sunnah ?

Syaikh Masyhur Salman menjawab :
Masalah ini adalah permasalahan yang banyak membuat sesorang keliru pemahamannya dan tergelincir, namun jawaban yang rajih bahwa syariat ini memiliki illat (sebab dibuatnya hukum-pent)yang mu’tabarah (dianggap). Sebagaimana yang tertulis dalam surat Umar kepada Abu Musa Al-As’ari yang berbunyi: “Kenalilah sesuatu dengan hal-hal yang serupa dengannya maka engkau akan mengetahui kebenaran”.

Tetapi Qiyas bukan sumber yang independen layaknya Alquran dan As-Sunnah, dia hanyalah sebuah masdar taba’I (dasar yang mengikut )dibawah cakupan Alquran
dan As-sunnah. Kita paham dari Alquran dan As-sunnah adanya kaedah-kaedah umum dan ketentuan -ketentuan dasar ,maupun kaedah-kaedah fikih. Dengan itulah kita berusaha menyesuaikan hukum-hukum dengan menganalogikannya kepada kasus-kasus yang serupa. Dalam menyikapi Qiyas, manusia yang keliru terbagi menjadi dua kelompok yang bersebrangan: pertama adalah kelompok yang menolak qiyas secara total dan tidak manganggap bahwa syariat ini memililiki illat, memiliki hikmah bahkan mengingkari bahwa syariat ini ada yang ma’qulatul makna( dapat di rasionalkan.pent). kelompok ini adalah keliru.

Adapun kelompok kedua: adalah kelompok yang terlalu luas dalam penggunaan qiyas sehingga meremehkan nasnas, bahkan bukan sekedar menjadikannya dasar hukum ketiga saja, lebih dari itu dia mendahulukannya dari nasnas, walaupun pada dasarnya sepakat menerima nas.

Kelompok ini juga keliru sebagaimana yang pertama.
Jawaban yang benar bahwa Qiyas mu’tabar (dianggap sebagai salah satu rujukan.pent). Ketika Ahmad bertemu dengan Syafii, –Ahmad sangat mencintai Syafii-. Dia pernah menukil sebuah perkatan Syafii ketika ditanya mengenai kehujjahan qiyas : “Qiyas dapat dipakai hanya pada kondisi darurat” inilah yang diperkuat Imam Ibn Qoyyim dalam keterangannya dan penjelasannya yang sangat tepat dan sempurna hingga tidak perlu lagi ditambahi dalam kitabnya :”I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbi al-‘alamin.

Kemudian masalah ini turut diperbincangkan oleh Jabariyyah dan Qodariyyah sehingga terseret kedalam pemahaman aqidah yang rusak.

Pendapat yang paling benar dan pertengahan adalah yang kusebutkan tadi , namun kalimat yang kusampaikan ini tentu tidak cukup untuk menerangkan secara rinci
permasalahan ini dari apa yang diterangkan Ibn Qoyyim.

PERTANYAAN :
Bagaimana standar suatu permasalahkan dapat digolongkan ke dalam perkara bid’ah ataupun tidak?

Syaikh Salim Hilali menjawab :
Bid’ah yaitu suatu perkara yang tidak memiliki dalil sedikitpun baik yang menyangkut asalnya maupun sifatnya(caranya). Segala perkara yang diada-adakan di dalam agama ini maka akan tertolak.semua bida’ah tetaplah dainggap bid’ah baik dengan meninggalkan sesuatu dalam Islam dengan niat bertaqarrub kepada Allah ataupun bid’ah idofiyyah yaitu perkara yang dasarnya disyariatkan namun sifatnya/caranya dibuat-buat.

Tetapi bukan setiap orang yang tergelincir kedalam perbuatan bidah dihukumi sebagai Ahlu bid’ah. Seseorang dihukumi dengan ahlu bid’ah jika telah diberitahukan kepadanya tentang kebid’ahan perbuatannya , dinasehati dan diperingatkan namun dia tetap bersikeras dengan bid’ahnya. Orang seperti ini digolongkan ke dalam Ahlu bid’ah dan boleh ditahzir sebab tidak lagi memiliki karamah (harga diri sebagai muslim). Baca pos ini lebih lanjut

Iklan