Tanya Jawab dengan para Masyayikh Yordania ( Murid –Murid Imam Al Albani )

SOAL-JAWAB ANTARA PESERTA DAURAH SYAR’IYYAH

DENGAN PARA MASYAYIKH—MURID-MURID DARI SYEIKH MUHAMMAD NASIRUDDIN AL-ALBANI HAFIZAHUMULLAH—

Yang diadakan di Ma’had al-Irsyad Surabaya tgl 17-21 Maret 2002

S. Sebelumnya anda nyatakan bahwa dakwah salaf menyeru kepada Islam secara menyeluruh, salaf menyeru kepada rukun Islam, jihad dan politik. Pertanyaan kami, sejauh manakah diperbolehkan ikut serta dalam pertarungan politik?

J. (Syeih Salim al Hilali). Islam adalah agama yang paripurna (syamil) dan diridhai Allah untuk kita. Yang kita disuruh berpegang teguh dengannya.Allah berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya Agama yang diridhai Allah di sisiNya adalah Islam”. “Barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan kelak hari kiamat dia termasuk orang-orang yang merugi. Allah menyeru untuk masuk ke dalam Islam Secara menyeluruh dengan firmanNya: Hai orang-orang yang berfiman masuklah ke dalam assilmi (Islam) secara keseluruhan”. Dalam menafsirkan kata assilm, Ibn Abbas berkata :” As-Silmi” adalah Islam. Jadi Allah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam agama ini secara menyeluruh, atau masuk secara total ke dalam nya.

Adapun “As-Siayasah”(politik) dialah hakikat Islam, karena makna siyasah sendiri adalah mengatur kemaslahatan umat dengan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kitabullah dan Sunnah rasulNya.. Dalam merealisasikannya dibutuhkan suatu manhaj, ilmu ataupun orang-orang yang faham kemaslahatan umat.

Para ulama Islam telah mengarang berbagai macam literatur siayasah syar’iyyah (politik dalam syariat Islam) di antaranya: buku al-ahkam as-Sultaniyyah karya al-Imam Al-Mawardi, As-Siyasah As-Syar’iyyah karya Ibn Taimiyyah dan Abu Ya’la al-Musili dan At-Turuq al-Hukmiyyah karya Ibn Al-Qayyim dan sebagainya yang keseluruhannya menerangkan bahwa Islam benar-benar memperhatikan kemaslahatan umat ,.

Islam merupakan pewaris agama seluruh nabi-nabi, Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam . Bersabda: “Bani Israil dipimpin oleh para nabi, jika seorang nabi wafat maka akan digantikan dengan nabi lainnya”, beliau juga bersabda: ”Akan datang setelahku para khulafa (pemimpin).

Yang mampu memahami kemaslahatan suatu Ummat setelah para nabi adalah para ulul amri yakni al-hukkam (para pemimpin ) dan Ulama, merekalah yang berhak untuk masuk ke dalam kancah perpolitikan ini untuk kemaslahatan umat.

Para pemimipin bertugas menjalankan syariat Allah, sedangkan para ulama bertugas mengarahkan umat dan menunjuki para umara. Yang berkompeten dalam hal ini adalah orang yang berilmu dan paham dengan hukum syariat . karena Kemaslahatan umat memerlukan pemahaman agama yang sempurna.

Adapun kata “politik“ yang dipahami pada zaman ini sebenarnya tidak pernah dikenal oleh Islam, .karena pengertian berpolitik di era ini adalah sebatas kemampuan untuk berdebat, menggerakkan massa, kemampuan berkelit, berubah-ubah warna, kemunafikan dan selalu mengikuti kemana arah angin bertiup. Islam berlepas diri dari “politik“ yang seperti ini.karena tidak akan mendatangkann kemaslahatan kepada ummat.

Inilah perbedaan makna “politik” yang diinginkan Allah dengan makna yang dipahami oleh orang-orang sekarang, yang tidak lain target utamanya agar sampai ke tampuk kekuasaan, karena itu seorang politikus rela untuk bekerja sama dengan segala macam cara dan segala macam mazhab. Demi ambisi ini dia rela untuk ganti-ganti warna, bersikap plin-plan dan berbuat kemuanafikan dengan politikus lainnya, kamim berlindung dari hal ini kepada Allah Tuhan alam semesta..

Adapun siyasah syar’iyyah akan selalu di bawah pimpinan seorang alim yang rabbani , Allah berfirman:” Tetapi jadilah kalian ulama yang Rabbanai dengan apa-apa yang kalian ajarkan dari alkitab dan dengan apa-apa yang kalain pelajari. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan